Berkembangnya zaman diiringi pula dengan majunya ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan ilmu ekonomi yang saat ini tak hanya dipengaruhi oleh konsep ekonomi kapitalis (liberal) dan ekonomi sosialis. Salah satu konsep pemikiran yang ikut memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu ekonomi saat ini yaitu ekonomi syariah.

Dikutip dari buku karya Jaharuddin dan Bambang Sutrisno yaitu Pengantar Ekonomi Islam (2019) bahwa ekonomi syariah merupakan penerapan konsep-konsep Al-Quran dan hadis, dalam kegiatan ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung.
Indonesia dengan negara yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia, mempunyai potensi besar untuk mengembangkan sektor ekonomi syariah. Dilansir dari laporan The State of The Global Islamic Economy 2020, Indonesia saat ini berada pada posisi keempat negara terbesar di dunia dengan ekonomi syariah.

Menurut laporan dari Koran Sindo, Selasa (4/5/2021), di bawah ini potret ekonomi syariah di Indonesia dalam data-data tertulis. Sektor terbesar belanja dengan ekonomi syariah yaitu pada sektor makanan dan minuman halal, dimana dapat mencapai USD144 miliar keuntungan atau sekitar 12,3% dari keseluruhan pengeluaran syariah global.

Pengeluaran ekonomi syariah besar juga dapat dilihat pada belanja kosmetik halal yang mencapai USD4 miliar. Lalu selebihnya pengeluaran yang tersisa yaitu di bidang media dan rekreasi mencapai USD22 miliar dan farmasi halal sekitar USD5,4 miliar.

Setelah membaca data di atas, selanjutnya Anda bisa memahami geliat kegiatan ekonomi syariah di Indonesia secara lebih lanjut. Tentu saja dengan mengenali apa saja prinsip ekonomi syariah di Indonesia, berikut penjelasanya:

1. Prinsip Transaksi Muamalat

Praktek dagang yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW saat beliau di Madinah sejatinya merupakan prinsip dari transaksi muamalat. Adapun eksistensi nilai yang melekat dalam pelaksanaan transaksi Muamalat adalah selalu menjunjung tinggi keadilan serta kerja sama. Di samping itu, keseimbangan setiap transaksi yang dilakukan haruslah sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh syariat.

2. Pengendalian harta pada setiap individu

Pada prinsip ini yaitu pengendalian harta setiap individu harus berjalan secara produktif. Pengendalian ini berguna untuk mengalirkan harta secara produktif di berbagai sektor bidang perekonomian. Aliran harta yang dikendalikan tersebut dapat berupa investasi produktif pada sektor riil, misalnya zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Jika harta tersebut mengalir secara produktif, maka secara otomatis kegiatan ekonomi akan berjalan terus menerus.

3. Distribusi hasil pendapatan yang inklusif

Selanjutnya pada prinsip distribusi hasil pendapatan dan kesempatan bertujuan untuk menjamin inklusivitas perekonomian bagi seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Karena itulah mengapa distribusi dari masyarakat dengan harta melebihi nisab dapat disalurkan dalam bentuk zakat untuk delapan golongan yang berhak menerima zakat yaitu fakir miskin, Amil, mualaf, hamba sahaya, ghorim, Fi Sabilillah, dan Ibnu Sabil.

4. Transaksi Keuangan yang Dilakukan sangat Terkait dengan Sektor Riil

Pada setiap transaksi keuangan yang dilakukan dengan ekonomi syariah harus dilaksanakan pada sektor riil. Dalam pandangan Islam, kegiatan ekonomi harus dapat mendorong berkembangnya sektor riil misalnya perdagangan, pertanian, industri, dan jasa. Hal ini yang ditekankan pada prinsip ekonomi syariah yaitu tidak akan pernah izin mengantongi izin toleransi untuk aktivitas ekonomi non riil misalnya perdagangan uang dengan sistem riba (perbankan) dan lainnya.

5. Memaksimalkan dan Mengoptimalkan Bisnis Jual Beli dan Berbagi Risiko

Dalam setiap bisnis yang dijalankan berlandaskan ekonomi syariah sudah pasti selalu menekankan sistem bagi hasil dan risiko. Maka dari itu Anda tidak perlu khawatir, pemecahan persoalan akan semakin mudah diselesaikan.

6. Berpartisipasi Sosial untuk Kepentingan Khalayak Ramai

Partisipasi yang dapat Anda lakukan pada prinsip ini yaitu jika Anda seseorang yang memiliki harta wajib berkontribusi membangun kepentingan bersama. Misalnya seperti mewakafkan tanah untuk rumah sakit, masjid ataupun untuk pembangunan jalan, dan sebagainya. (yuli)