Jika ditinjau dari data sensus yang sudah dilakukan oleh Badan Pusat Statistik atau BPS, demografi di Indonesia saat ini memang mengalami perubahan yang cukup signifikan. Lebih dari 50 persen telah didominasi oleh usia produktif yang berasal dari generasi Z dan milenial.

Dari perubahan ini, tentunya akan sangat diharapkan bahwa di masa depan akan menjadi sebuah kunci untuk memulihkan ekonomi Indonesia agar lebih baik lagi. Berdasarkan data tersebut, generasi Z mtelah mendominasi 27,9 persen, sedangkan untuk generasi milenialnya mendominasi 25,87 persen.

Terhadap para penyedia lapangan pekerjaan serta iklim usaha akan sangat diharapkan agar generasi ini bisa semakin berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.

Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah atau yang disingkat KNEKS bernama Ventje Rahardjo sendiri mengatakan bahwa data dari BPS akan sangat diharapkan untuk turut berperannya para milenial terhadap aktivitas ekonomi agar semakin meningkat, termasuk dalam kategori ekonomi syariahnya.

Ventje Rahardjo pun menjelaskan dalam siaran virtual yang dilakukan di hari Rabu tersebut bahwa jika dilihat dari pasar, peran para usia produktif ini bisa mencapai 50 persen dan akan menjadi pasar yang sangat baik tentunya bagi industry Perbankan Syariah, dan asuransi syariah dalam menjualkan berbagai jenis produk, baik secara digital maupun analog.

Sementara itu, milenial pun diprediksi akan menjadi pembuka bagi banyak lapangan pekerjaan, baik pada bidang industry Perbankan, asuransi, digital, dan masih banyak lainnya di masa depan.

Selain itu, Ventje Rahardjo pun mengatakan juga bahwa saat ini merupakan masa yang sangat baik untuk generasi milenial dan generasi Z untuk menciptakan usaha nyata dengan mengambil resiko yang bahkan keluar dari pola piker para milenial ini.

Nah, berbagai perubahan yang terjadi saat ini tentunya sudah sangat sesuai dengan masterplan ekonomi syariah Indonesia yang mana terdiri dari empat strategi utama. Diantara strategi utama yang dimaksudkan adalah adanya penguatan rantai nilai berlabel halal, penguatan dari segi keuangan syariahnya sendiri, penguatan yang terjadi pada sisi ekonomi digitalnya, serta penguatan dari UMKM yang berkomitmen untuk mewujudkan masterplan ekonomi syariah bisa terbentuk dengan baik.

Dengan adanya hal tersebut, maka akan sangat diharapkan agar proses ini dapat mempercepat terbentuknya ekosistem dari ekonomi syariah yang bertujuan untuk mendukung penguatan ekonomi nasional dan kesejahteraan bangsa Indonesianya sendiri.

Peran Fintech

Sementara itu, ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia yang bernama Ronald Yusuf Wijaya pun mengatakan bahwa saat ini fintech sudah bisa menyasar ke seluruh aspek produk keuangan. Diantara aspek tersebut yakni lending, blockchain, regtech, payments, ada juga personal finance, insurance, wealth managements, capaital markets, hingga mortgage.

Dengan adanya pandemic Covid-19, P2P Syariah ini pun terkena dampak yang cukup positif. Dimana hal ini sudah terlihat dari penyaluran yang telah mengalami kenaikan volume hingga lebih dari 50 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang lalu.

Ronald Yusuf Wijaya juga menjelaskan bahwa jumlah para usernya pun mengalami kenaikan yang cukup baik, bahkan diatas rata-rata pengguna dari lebih 300 persen. Hal ini dikarenakan semua orang sedang menjalani WFH sehingga aksesnya pun hanya bisa dilakukan dengan smartphone. Selain itu, literasi dan inklusi dari keuangan syariah ini juga sedang tumbuh cukup pesat.

Indonesia saat ini juga telah terlihat mampu dan memiliki potensi sangat besar sebagai pemimpin dari ekonomi syariah. Hal ini bisa Anda lihat dari empat hal yang sudah disebutkan dan dijelaskan sebelumnya, yakni emerging middle class, young and unbanked, ada juga jumlah porsi muslis yang terbesar, hingga insfrastruktur digital yang dianggap paling siap. (yuli)