Semakin majunya perkembangan zaman, seharusnya diiringi juga dengan meningkatnya kualitas belajar anak. Dewasa ini dengan mudahnya akses smartphone dapat digunakan oleh siapa saja berbagai kalangan usia. Jangan salah dengan menggunakan kemajuan teknologi, dapat pula mengasah kemampuan anak untuk berpikir kritis sejak dini.

Namun, karena penggunaan smartphone yang terlalu sering di berbagai aspek kehidupan termasuk bidang pendidikan yaitu pembelajaran online yang disebabkan oleh pandemi Covid 19. Kebiasaan menggunakan smartphone baik di sekolah maupun di rumah menjadikan anak-anak secara tidak langsung mengakibatkan LOTS (Low Order Thinking Skills) atau tingkat berpikir rendah.

Efek yang ditimbulkan dari LOTS tersebut adalah anak akan menjadi mudah bosan saat melakukan sesuatu. Mungkin ini juga yang sedang kamu rasakan, karena terlalu sering menggunakan smartphone baik untuk bekerja ataupun memenuhi urusan pendidikan. Maka saat menggunakan ponsel atau smartphone dituntut untuk bijak dan selalu berada dibawah pengawasan orang tua bagi anak di bawah umur.

Seorang Guru Memiliki Peran Penting dalam Proses Berpikir Kritis Anak
Termaktub dalam UU nomor 20 tahun 2003 bahwa peranan seorang guru sangat penting sebagai instrumen untuk mengembangkan kemampuan juga watak peradaban bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa dan negara. Maka dari itu seorang guru memiliki peran yang sangat penting sebagai pondasi berdirinya bangsa yang beradab.

Karena itu dengan begitu riskannya resiko penggunaan smartphone yang berlebihan maka sosok gurulah dengan kemampuannya tersebut membantu mengatasi permasalahan di atas. Guru hadir berperan sebagai sosok yang dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk meningkatkan kualitas mereka.

Hal tersebut tentunya berbanding lurus untuk ikut serta memajukan pendidikan di Indonesia. Ketika hal tersebut berhasil oleh para guru lakukan, maka akan diperoleh peningkatan kemampuan berpikir dari para peserta didik atau yang disebut dengan HOTS (High Order Thinking Skills).

Perlunya inovasi juga kreatifitas yang baik dari sang guru ketika mengajar yang bisa menarik peserta didik untuk berpikir kritis. Pemilihan metode mengajar yang baik ikut serta menjadikan suksesnya hal tersebut. Para guru bisa mengurangi buku yang biasa dijadikan sebagai media belajar dengan media loose parts yang menggunakan metode STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts dan Mathematics).

Ketika guru sudah menerapkan metode ini maka dapat membantu peserta didik untuk aktif bertanya, mengembangkan kreativitas dan imajinasi mereka. Peserta didik juga akan lebih aktif secara fisik, lebih efisien saat pembelajaran, mampu memotivasi peserta didik agar bisa menyelesaikan masalah dan menemukan caranya sendiri saat melakukan sesuatu.

Pembelajaran media loose parts merupakan seperangkat bahan ajar dari bahan-bahan bekas yang mudah untuk dipindahkan, dimanipulasi, atau dirancang ulang kembali dengan berbagai macam cara serta cara penggunaannya tersebut ditentukan oleh masing-masing peserta didik. Bahan- bahan tersebut dapat dengan mudah dicari di sekitar lingkungan.

Penggunaan bahan-bahan bekas seperti kertas, koran, batu dan juga lainnya yang dengan mudah ditemui dilingkungan sekitar. Maka dari itu pembelajaran dengan metode ini mampu mengasah jiwa kreatif setiap peserta didik. Peran guru dan orang tua tetap sebagai pendamping anak saat proses belajar berlangsung.

Begitu pula dengan menggunakan metode tersebut dapat diawasi dengan mudah oleh orang tua. Hal ini dapat meningkatkan kreativitas juga inovasi dalam diri peserta didik. Kerjasama dan komunikasi yang baik antara anak, orang tua juga guru dapat meningkatkan kemampuan anak untuk berpikir kritis sejak dini.